CARA MENSUCIKAN NAJIS:

(فصل) المغلظة: تطهر بسبع غسلات بعد إزالة عينها، إحداهن بتراب. والمخففة: تطهر برش الماء عليها مع الغلبة وإزالة عينها. والمتوسطة تنقسم إلى قسمين: عينية وحكميه. العينية: التي لها لون وريح وطعم فلا بد من إزالة لونها وريحها وطعمها. والحكمية: التي لا لون لها ولا ريح ولاطعم لها يكفيك جري الماء عليها.

Cara Mensucikan Najis :

  1. Najis Mughalladlah :

Cara mensucikan dengan 7 basuhan setelah menghilangkan ‘ain-nya (bentuk najisnya, penj), salah satunya di campur dengan tanah.

  1. Najis Mukhaffafah :

Cara mensucikan dengan mengaliri air pada yang ada najisnya dan hilang ain-nya (bentuk najisnya, penj).

  1. Najis Mutawassithah terbagi menjadi 3 yaitu :

Najis Mutawassithah ‘Ayniyyah.

Najis Mutawassithah Hukmiyyah.

Najis Mutawassithah ‘Ayni adalah najis yang memiliki warna, bau dan rasa, maka menghilangkannya harus dengan menghilangkan warna, bau dan rasanya.

Najis Mutawassithah Hukmi adalah najis yang tidak memiliki warna, bau dan rasa, maka cara menghilangkannya cukup dengan mengaliri air.


Syarah/Penjelasan:

Cara Penyucian Pada Tiga Macam Najis

*Cara mencuci najis mughalladah adalah membasuh dan mensucikannya dengan tujuh kali basuhan atau sucian, setelah hilangnya bekas najis tersebut. Salah satu dari tujuh sucian tersebut harus dibarengi dengan debu. Sebab ada hadits nabi yang menyatakan bahwa, “basuhan terakhir dari tujuh basuhan harus dicampur dengan debu”; dan hadits yang lain menyatakan bahwa “basuha pertama dari ketujuh basuhan harus dicampur dengan debu”. Jadi mencampur debu bebas baik di awal atau di akhir basuhan.

Yang dimaksud dengan debu adalah endut atau tanah liat yang tercampur dengan air sehingga lembab atau pun debu yang berupa pasir lembut yang kering. Sehingga tidak bisa dianggap mensucikan najis mughalladhah dengan sabun, kayu atau yang lainnya.

*Najis mukhaffafah (ringan) dengan memercikkan air pada najis, dan diperkirakan bahwa najisnya dapat dihilangkan. Meskipun memercikkan airnya tanpa dilakukan oleh seseorang atau dengan air hujan yang menetes dari langit dan menetesi tempat atau sesuatu yang najis, maka dianggap cukup sebagai pembasuhan pada najis mukhaffafah (ringan).

*Najis mutawasitah (pertengahan) ada dua, yaitu najis ‘ayniyah dan najis hukmiyah.

Najis ‘ayniyah adalah najis yang memiliki bentuk atau warna, bau, dan rasa. Disebuat dengan najis ‘ayniyah, sebab najisnya dapat ditangkap oleh panca indera. Cara penyuciannya harus secara total menghilangkan baik bentuk atau warna, bau dan rasanya.

Jika warna atau baunya susah dihilangkan setelah dibasuh berkali-kali, maka sudah dianggap cukup dan benda atau tempat yang terkena najis sudah bisa dianggap suci. Batasanya susah menghilangkan najis adalah dengan membasih tiga kali akan tetapi tidak dapat hilang bentuk atau baunya, maka sudah dianggap cukup atau suci. Sedangkan jika rasa najis susah dihilangkan maka benda atau tempat yang terkena najis bisa dikatakan najis yang ma’fu ‘anhu (dimaafkan).

Sedangkan najis hukmiyah adalah najis yang tidak memiliki bentuk, bau dan rasa. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda atau tempat yang terkena najis.[]

#terjemahankitabsafinah

Semoga Bermanfaat.

Spread the love