Oleh : Mohammad Zaki Mubarok (Guru Besar ITB Bandung)

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan nikmat iman dan Islam serta kesempatan untuk sekali lagi berjumpa dengan bulan yang agung, Syahrul Quran, bulan Ramadhan yang selalu kita rindukan.
Sholawat serta salam semoga Allah senantiasa limpahkan kepada panutan kita nabi besar Muhammad SAW, kepada para keluarganya, sahabatnya dan para pengikut yang mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Pada hari-hari ke depan ini para orang tua akan disibukkan dengan agenda terkait kelanjutan pendidikan putra-putrinya ke jenjang yang lebih tinggi. Para orangtua sibuk mencari sekolah yang terbaik untuk putra-putrinya, baik sekolah umum, pesantren atau boarding school, perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Tentu di dalam memilih sekolah-sekolah tersebut menyesuaikan dengan minat dan kemampuan dari anak-anaknya, namun pada prinsipnya para orang tua ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk masa depan putra-putrinya.
Dalam Islam sendiri jelas diajarkan oleh nabi bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimat sesuai hadist riwayat Ibnu Majah ”tholabul ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wamuslimat. Dalam hadist Nabi yang lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi disebutkan: “Uthlubul ‘ilma walau bishshiin” – tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.
Dalam hadist nabi lainnya disampaikan bahwa kunci keberhasilan di dunia dan juga di akhirat adalah penguasaan ilmu:
ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ
yang artinya: “Barang siapa yang menginginkan dunia maka untuk meraihnya adalah dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan akhirat maka untuk meraihnya adalah dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki keduanya maka untuk meraihnya adalah dengan ilmu”. Kita melihat relevansi saat ini bagaimana negara-negara yang “menentukan dunia” adalah negara-negera yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Firman Allah SWT dalam Alquran Surat Al Mujadalah, ayat 11:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Jadi jelas sekali dalam Islam, bahwa menuntut ilmu itu sangat penting dan akan membawa pada keberhasilan di dunia dan juga akhirat. Dalam konteks tersebut, orang tua berlomba-lomba untuk dapat menyekolahkan anaknya pada “institusi pendidikan” yang menurut mereka akan memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anaknya di masa depan.
Berkaitan dengan pendidikan anak, Alqur’an telah memberikan contoh yang sangat baik dan komperehensif pada Surat Luqman (QS 31) ayat 13-19 yang mengkisahkan bagaimana Luqman seorang “ahli hikmah” memberikan nasehat kepada anaknya, yang terjemahannya diuraikan dan dibahas pada bagian berikut ini:

(QS 31-13). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ajaran pertama yang ditanamkan oleh Lukman kepada anaknya adalah ajaran tauhid. Yaa bunayya Laa tusyrik billah. Wahai anakku jangan engkau sekutukan Allah. Prinsip tauhid ini sangat penting kita tanamkan kepada anak-anak kita kepada generasi muda kita, bahwa setiap aktivitas hidup kita, sekolah kita, pekerjaan kita semata-semata tujuan tertingginya adalah mencari ridho Allah. Generasi yang bertauhid tujuan hidup-nya pasti dan firm. Generasi yang bertauhid bukanlah generasi sekuler yang memisahkan kehidupan sehari-harinya, pencapaian-pencapaian dan target-target hidupnya hanya untuk tujuan duniawi yang kering atau tanpa tujuan yang jelas, namun merupakan generasi yang selalu memaknai langkah-langkah hidupnya tersebut untuk mencari ridho Allah. Pernahkah kita sesekali menanyakan tujuan hidup dari anak-anak kita? Makna dari aktivitas sehari-hari mereka. Atau kita biarkan saja mereka asyik dengan dunianya dan gadgetnya masing-masing?

Dalam ayat berikutnya (14) disampaikan wasiat untuk berbakti kepada kedua orang tua khususnya ibu, hal yang sangat fundamental bagi pembentukan karakter seorang anak dan juga merupakan nilai universal yang berlaku pada semua zaman dan semua kelompok budaya manusia dan bangsa manapun.
(QS31-14). Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Bahkan ketika orang tua memaksa untuk mempersekutukan Allah, berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam, tetap harus disikapi dan diperlakukan dengan baik meskipun tidak mengikuti keinginan untuk mempersekutukan Allah ini.
(QS 31-15). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Pokok pendidikan berikutnya yang disampaikan oleh Lukman kepada anaknya adalah kejujuran dan sikap muroqobah (selalu merasa diawasi Allah SWT) sebagaimana terdapat pada QS 31: 16, yang terjemahannya sebagai berikut:
(QS31-16). (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Kejujuran adalah nilai pertama yang harus diajarkan dalam pendidikan anak di rumah setelah nilai tauhid dan bakti pada orang tua. Kesadaran bahwa ada Allah yang melihat dan mengawasi. Ajaran kejujuran di rumah ini akan menjadi basis bagi terbangunnya nilai-nilai kejujuran di masyarakat, bangsa dan negara. Sungguh nilai kejujuran ini yang belakangan ini banyak mengalami kemerosotan bahkan di institusi-institusi yang seharusnya menjadi penjaga norma dan nilai-nilai.

Ajaran berikutnya adalah menegakkan sholat, turut serta dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar dan bersabar terhadap apa yang dialami sebagaimana dinyatakan pada ayat berikut ini

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

(QS31-17). Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan-urusan yang diwajibkan (oleh Allah).

Jelas bahwa menegakkan sholat, komitmen anak-anak kita kepada kebenaran dan kepeduliannya pada pencegahan kemungkaran merupakan parameter utama keberhasilan pendidikan kita. Kalau anak-anak dan generasi muda sholatnya displin dan tegak, mau memakmurkan masjid, paham apa-apa yang dilarang Allah dan secara konsisten menjauhinya, niscaya kita dapat mengharapkan datangnya generasi yang dapat menjadi tumpuan harapan bangsa kita. Pendidikan juga seyogyanya membentuk sikap hidup yang sabar dan tangguh (wasbir ‘alaa maa ashoobak). Sikap “persisten” yang tidak mudah menyerah bila ditimpa persoalan karena sudah tertanam dalam sanubarinya sikap hidup yang penuh harapan dan rasa berserah diri kepada Allah SWT.

Ajaran berikutnya TIDAK bersikap merendahkan orang lain dan sombong serta berbangga diri:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(QS31-18). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat ini mengajarkan prinsip kerendahatian dan sekaligus egaliterianisme. Kita tidak boleh memalingkan wajah kita dari manusia lain karena menganggap kita lebih tinggi (apakah karena kekayaan kita, jabatan atau tingkat pendidikan kita). Prinsip-prinsip wala tuso’ir khoddaka linnas wa laa tamsyi fil ardhi maroha ini adalah dasar-dasar pergaulan yang sangat baik yaitu menghargai orang lain apa adanya, memperlakukannya secara equal dan juga menghindarkan diri dari perilaku arogan dan sombong, niscaya pergaulan sosial akan dapat dilakukan dengan sehat.

Pada ayat selanjutnya yang merupakan ayat terakhir yang berisi nasehat luqman kepada anaknya diajarkan nilai-nilai kesantunan dalam bersikap yang direpresentasikan dalam kesopanan berbicara dan berjalan. Dalam konteks kekinian cara berjalan ini juga berkaitan dengan bagaimana cara berkendara di jalan. Sementara, merendahkan volume suara adalah bagian dari etika kepada orang tua dan juga etika ketika berdiskusi atau berbicara dalam sebuah majelis.

وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ

(QS31-19). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Demikianlah pokok-pokok pendidikan Luqman, pendidikan seorang ayah kepada anaknya yang diabadikan dalam Alqur’an, sangat komperehensif dan masih sangat relevan bagi pendidikan di zaman modern ini. Semoga dapat menjadi renungan kita bersama, khususnya dalam mendidik putra-putri kita.

Aqulu qauli haadza wastaghfirullaaha Innahu huwal ghofuurur rohiim.
Wassalaamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Spread the love