Oleh : Mohammad Zaki Mubarok, S.T, P.Hd (Guru Besar ITB Bandung)

Bismillaahirrohmaanir Rohiim
Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Innal hamda lillah nahmadzuhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh
Wanaudzubillaahi min sururi anfusina wamin sayyiati a’malina
Manyahdzillahu falaa mudzillalah wamayyudzlilhu falaa haadziyalah
Allohumma sholli ‘alaa sayyidina Mohammad, wa’alaa aalihi wasohbihi ajma’in
Amma ba’du.

Tema kita kali ini adalah Alqur’an dan Sains. Saya akan memulai dengan mengutip Surat Al Imran ayat 190-191.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”.

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
191: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Dalam sejarah terjadi polemik yang panjang mengenai apakah bumi berputar mengelilingi matahari atau sebaliknya. Selama sekian lama dipercaya bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, atau disebut teori “geosentris”, dimana matahari dipercaya terbit dari timur beredar di angkasa dan terbenam di barat dan bumi tetap diam tidak bergerak. Sampai seorang ilmuwan Polandia bernama Nicolas Copernicus mengajukan sebuah teori yang revolusioner yaitu teori “heliosentris” yang menyatakan bahwa bumi beredar mengelilingi matahari dan teori inilah yang sekarang terbukti kebenarannya. Pada masa itu, (Copernicus lahir tahun 1473 dan meninggal pada 1543) teori Copernicus tersebut bertentangan dengan keyakinan sebagian besar ilmuwan pada waktu itu dan juga bertentangan dengan doktrin otoritas keagamaan di Eropa saat itu yang meyakini bumi sebagai pusat peredaran planet-planet di angkasa dan juga matahari.

Ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membuktikan bahwa selain berputar mengelilingi matahari, bumi juga berputar pada porosnya dan pergantian siang dan malam – yang disebut oleh Allah pada QS Al Imran ayat 190 di atas sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir- itu adalah akibat perputaran bumi pada porosnya ini. Pada saat bagian permukaan bumi menghadap matahari maka belahan bumi tersebut mengalami siang hari, sementara permukaan bumi lainnya yang tidak sedang menghadap matahari akan berada pada waktu malam hari.
Bumi dan planet-planet anggota tata surya lainnya bergerak mengelilingi matahari karena mereka memiliki lintasan edar (orbit) masing-masing yang tidak berpotongan satu sama lain. Sesungguhnya Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dalam Surat Al-Anbiya ayat ke-33:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [الأنبياء/33]
“Dan Dia yang telah menciptakan malam dan siang, matahari, dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Jauh sebelum sains dan teknologi modern membuktikan adanya pegerakan bumi, matahari dan bulan pada lintasannya dan korelasinya dengan malam dan siang, Alquran telah menyebutnya pada Surat Al Anbiya ayat 33 di atas.

Salah satu perkembangan teknologi paling hebat pada abad 20 lalu adalah kemampuan manusia menjelajahi ruang angkasa, melihat bumi dari luar angkasa dan mendarat di bulan serta setelahya di planet Mars. Pendaratan ke bulan dengan selamat pertama kali dilakukan oleh Neil Amstrong dan beberapa astronot dari NASA lainnya pada tahun 1969 dengan Pesawat bernama Apollo 11.

Terkait dengan penjelajahan ruang angkasa ini, Allah telah berfirman dalam Surat Ar Rohman ayat 33:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَان

Artinya: “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”(QS. 55:33)

Sesudah sekitar 1340-an tahun kemudian terbukti bahwa manusia sanggup menembus penjuru langit dan bumi dengan “sulthon” atau kekuatan pesawat ruang angkasa yang mampu menembus atmosfer bumi dan melawan gaya gravitasi. Dalam hal ini, “sulthon” (yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “kekuatan”) adalah gaya dorong dan angkat dari mesin pesawat ruang angkasa yang besarnya melebihi jumlah dari gaya gravitasi bumi dan gaya hambat (drag force) dari lapisan armosfer bumi, sehingga pesawat ruang angkasa ini mampu keluar dari atmosfer bumi untuk mendarat di bulan atau Mars.

Masih dalam Surat Ar Rohman, pada ayat 19-20 Allah berfirman:
“Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.”
Artinya: ” Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Fenomena dua laut yang bertemu namun tidak saling bercampur ini saat ini terbukti secara empirik pada tidak bercampurnya Lautan Pasifik dan Lautan Atlantic ketika keduanya bertemu dan terdapat batas yang secara fisik visible (terlihat) pada pertemuan kedua lautan ini. Juga pada pertemuan Laut Tengah (Mediterranean Sea) dengan Lautan Atlantik di Selat Gibraltar, pertemuan North Sea dan Baltic Sea dan pertemuan Laut Karibia (Caribbean Sea) dengan Lautan Atlantic. Alasan scientific mengapa 2 laut-lautan bertemu namun tidak bercampur dan terlihat jelas batas antara keduanya ini adalah karena perbedaan densitas, perbedaan kadar garam (salinitas) serta perbedaan karakteristik fisik serta biologi antara kedua laut-lautan ini. Selengkapnya dapat disimak pada video berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=U93QRMcQU5Y
(“Why the Atlantic and Pacific Oceans Don’t Mix”)

Di atas adalah contoh-contoh ayat Alquran yang secara eksplisit berkorelasi dengan fenomena alam dan sains. Masih banyak ayat-ayat yang lain yang berkaitan dengan bidang sains yang lain misalnya bidang kedokteran seperti dalam Quran Surat Al-Mukminun Ayat 12-14 yang menggambarkan dengan jelas perkembangan pertumbuhan janin dalam rahim seorang wanita. Atau bidang biologi seperti pada QS. An Nahl ayat 66 yang artinya: “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” Ilmu anatomi binatang ternak menunjukkan bahwa susu, darah dan kotoran berasal dari sumber yang sama, yaitu dari makanan ternak. Namun ketiganya tidak bercampur karena masing-masing mempunyai tempat sendiri dimana darah mengalir melalui pembuluh darah, susu tersimpan dalam kantong susu dan dihasilkan oleh kelenjar susu, sementara kotoran tersimpan di lambung.

Alqur’an memang bukan ensiklopedia sains, melainkan tuntunan paripurna untuk kehidupan seorang mukmin baik secara individu maupun secara sosial. Namun, Alquran menginpirasi pengembangan sains dan tradisi ilmiah dengan banyaknya ayat-ayat yang menganjurkan untuk mentafakuri alam semesta, berpikir, mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah manusia sebelumnya yang pada dasarnya merupakan nilai-nilai fundamental dari pengembangan sains. Tradisi ilmiah unggul inilah yang diharapkan dimiliki oleh seorang muslim dan umat Islam agar mampu membangun kemandirian dan kehidupan yang bermartabat di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia ini. Ketertinggalan dalam sains dan teknologi akan membawa pada kemiskinan, kelemahan dan ketergantungan pada bangsa lain yang lebih unggul ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Terlepas dari pembahasan mengenai Alquran dan sains yang telah diuraikan di atas, Alquran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang akan dijaga sendiri oleh Allah SWT (QS. Al Hijr ayat 9: ”Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya”). Saya yakin diantara kita ini sangat bervariasi “kedekatannya” dengan Alquran. Ada yang bisa membaca dengan lancar dan paham artinya serta mengamalkannya, ada yang bisa membaca namun tidak paham artinya, ada yang bisa membaca namun tidak lancar, panjang-pendeknya dan tajwidnya belum baik, mungkin ada yang hafal banyak juz, ada yang setahun katham 1x, 4x, 12x atau lebih dan mungkin ada pula yang seumur hidup belum pernah khatam. Tidak apa-apa, semua ada nilainya di sisi Allah untuk kecintaan kita pada Alquran. Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk terus memperbaiki diri. Memasuki 10 hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Alquran. Marilah kita baca secara lebih intens dan rutin dan coba kita pahami dengan lebih baik Alquran kita ini. Kita lanjutkan tradisi baik khotmil Quran di WAG-WAG kita. Kita raih ketentraman jiwa dan keberkahan dengan membacanya di rumah-rumah kita. Aamiin Yaa Mujibas Saailiin.
Aqulu qauli haza wa astaghfirullah aladzim.
Wassalaamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Spread the love